ANALISIS PERBANDINGAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP USD SEBELUM DAN SETELAH ADANYA PEMILIHAN LEGISLATIF (PILEG)

Published Mei 18, 2014 by A M A L I A

ANALISIS PERBANDINGAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP USD SEBELUM DAN SETELAH ADANYA PEMILIHAN LEGISLATIF (PILEG)

 

Sebagai Tugas Dari Mata Kuliah Manajemen Keuangan Internasional

 

Kelas   : 4 EA 01

 

Mikail Firdaus           (14210399)

Restina Putri             (18210977)

Rizki Amalia F.         (16210120)

Yodia Hadishtis         (18210634)

 

UNIVERSITAS GUNADARMA

FAKULTAS EKONOMI

JURUSAN MANAJEMEN 2010

JAKARTA

 

 

ABSTRAKSI

 

            Pemilihan legislatif atau biasa dikenal dengan PILEG merupakan hajat 5 tahunan Negara Republik Indonesia dalam menjalankan pesta demokrasinya. Ini merupakan salah satu indikator politik yang akan mempengaruhi kehidupan perekonomian di Indonesia khususnya. Indikator perekonomian tersebut adalah kurs atau nilai tukar rupiah terhadap dollar. Penelitian ini menganalisis tentang perbandingan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika (USD) sebelum dan setelah adanya pemilihan legislatif di Indonesia. Metode penelitian menggunakan paired sample t-test dengan sampel nilai kurs tengah dari 12 hari sebelum dan setelah adanya pemilihan legislatif. Hasil penelitian ini menunjukan adanya pengaruh yang signifikan nilai kurs rupiah terhadap dollar Amerika sebelum dan setelah adanya pemilu. Perbandingan rata-rata kedua sampel juga memberikan adanya informasi mengenai adanya perbedaan sebelum dan setelah adanya pemilihan legislatif. Sehingga dalam penelitian ini mengindikasikan bahwa politik berpengaruh terhadap perekonomian di Indonesia yang dapat memberikan efek terhadap kelangsungan kehidupan perekonomian khususnya.

 

 

 

 

Kata kunci : Nilai Kurs, rupiah, USD, PILEG    

DAFTAR ISI

 

JUDUL ………………………………………………………………………………..        i

ABSTRAK……………………………………………………………………………        ii

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………….        iii

 

BAB I   PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang………………………………………………….        4

1.2.      Rumusan Masalah …………………………………………….        8

1.3.      Tujuan Penelitian ………………………………………………        8

 

BAB II METODE PENELITIAN

2.1.      Objek Penelitian ………………………………………………        9

2.2.      Jenis dan Sumber Data ………………………………………        9

2.3.      Metode Analisis Data ………………………………………..        9

2.4.      Hipotesis ………………………………………………………….        10

 

BAB III PEMBAHASAN

3.1.      Kurs Rupiah terhadap USD ……………………………….        11

3.2.      Analisis Data ……………………………………………………        13

3.3.      Hasil dan Pembahasan ……………………………………….        14

 

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1.      Kesimpulan………………………………………………………        16

4.2.      Saran ……………………………………………………………….        16

 

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………..        17

LAMPIRAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.            Latar Belakang

            Stabilitas mata uang merupakan persoalan yang penting untuk mendorong kegiatan ekonomi dan menciptakan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Perdagangan antarnegara mengakibatkan terjadinya pertukaran mata uang antar negara yang direfleksikan dalam kurs mata uang. Pentingnya peranan kurs mata uang baik bagi negara maju maupun negara sedang berkembang, mendorong dilakukannya berbagai upaya untuk menjaga posisi kurs mata uang suatu negara berada dalam keadaan yang relatif stabil. Fenomena yang kerap kali terjadi berhubungan dengan kurs mata uang yaitu fluktuasi nilai mata uang yang tidak menentu. Amerika Serikat dipandang sebagai negara maju dengan Dollar Amerika (USD) sebagai mata uangnya yang merupakan mata uang acuan bagi sebagian besar negara sedang berkembang.

            Sistem kurs di Indonesia telah berulang kali mengalami perubahan seiring dengan penggantian periode kepemimpinan negara Republik Indonesia. Perubahan sistem kurs di Indonesia dikarenakan oleh pemerintah yang menetapkan kebijakan pemberlakuan sistem kurs yang disesuaikan dengan kondisi keadaan makroekonomi Indonesia.

            Disisi lain, kondisi politik juga dianggap mempengaruhi tawar menawar kurs yang dilakukan para pelaku pasar uang. Lancar dan amannya Pemilihan Umum (Pemilu) seolah menyampaikan pesan kepada dunia internasional terhadap stabilitas politik di Indonesia yang menjadi salah satu negara demokrasi terbesar di dunia.Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, pelaku pasar memang akan terus mencermati jalannya pesta demokrasi di Indonesia. Sebab, stabilitas politik memang menjadi salah satu parameter utama bagi investor untuk menanamkan modalnya di sebuah negara. ‘Kalau politik stabil, saya kira (rupiah) menguat’.

            Nilai tukar rupiah belakangan ini tengah mengalami gejolak, ada beberapa faktor yang menjadi pendorong penguatan nilai tukar rupiah. Diantaranya adalah faktor fundamental ekonomi Indonesia yang saat ini sedang menghadapi berbagai ancaman ditambah juga dengan kondisi ekonomi Amerika Serikat melalui kebijakan The Fed yang memangkas stimulus investasinya sehingga pelaku pasar melihatnya sebagai kondisi kebangkitan ekonomi Amerika yang semakin membaik.

            Bank Indonesia (BI) meyakini pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa waktu terakhir akan teratasi pada 2014 mendatang. Keyakinan tersebut didasarkan pada tren selama ini bahwa rupiah menguat setiap diadakannya pemilihan umum (pemilu).

            “Trennya selalu seperti itu. Setiap ada pemilu, rupiah selalu menguat. Begitu ada hasilnya, terpilih pemimpin baru, sentimen akan positif karena pasar mendapatkan kepastian dan juga gambaran mengenai masa depan Indonesia, setidaknya dalam lima tahun ke depan,” ujar Direktur Eksekutif Department Komunikasi BI, Difi Ahmad Johansyah dalam Pelatihan Wartawan Ekonomi dan Perbankan.

            Dikatakan, tren tersebut masih juga akan diperkuat dengan kinerja sebagian segmen bisnis sektor riil yang terdorong oleh kemeriahan suasana pemilu, seperti bisnis advertising, makanan dan minuman serta berbagai sektor lain. Selain didorong oleh sentimen pemilu, klaim atas penguatan nilai tukar rupiah tersebut juga didasarkan pada proyeksi bahwa tren inflasi di sepanjang tahun depan bakal terus mengalami penurunan, khususnya mulai Agustus 2014 mendatang. Penurunan tersebut sendiri dipicu oleh dampak positif dari berbagai sektor ekonomi yang mulai bangkit dan tumbuh.

            Nilai tukar dolar terhadap rupiah masih terus menguat hingga hari ini di angka Rp 12.215. Kondisi ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga semester II-2014 ini. Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan memperkirakan rupiah akan menguat ke angka Rp 11.200/US$ di semester II-2014. Dolar masih akan perkasa hingga selesainya pemilihan umum. “Kalau di semester pertama 2014 dia akan menguat di angka Rp 12.500/US$, di semester kedua nanti rupiah akan menguat menjadi Rp 11.400-an,” kata Fauzi di acara Diskusi Strengthening Indonesia’s Financial System di Garden Terrace Four Seasons Hotel, Jakarta, Senin (3/2/2014).

            Saat ini, ada 3 faktor yang membuat rupiah masih melemah terhadap dolar. Fauzi mengatakan, isu tapering yang masih berjalan membuat rupiah belum akan menguat dalam waktu dekat, ditambah defisit neraca berjalan yang masih besar. “Di semester pertama masih akan melemah karena ada beberapa issue quantitative easing, defisit neraca berjalan dan juga pemilu,” katanya. Karena dipengaruhi ketiga faktor tersebut juga, lanjut Fauzi rupiah akan menguat pada semester kedua. Fauzi mengatakan, pada semester kedua nanti Pemilu akan selesai dan muncul pemerintahan baru yang mana akan terbentuk suatu euforia baru yang berpengaruh pada penguatan nilai tukar rupiah.

            Melihat defisit neraca semakin kecil, lalu juga dengan mulai berakhirnya quantitative easing. Defisit neraca berjalan menjadi faktor penting yang bisa menentukan penguatan rupiah terhadap dolar atau mata uang asing lainnya. Selama defisit neraca berjalan masih besar ini sulit untuk mengharapkan rupiah menguat, ini terjadi di negara lain juga seperti Brasil, Turki, India.

            Tren apresiasi atau penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sudah dimulai sejak awal tahun ini. Faktor pemicunya adalah membaiknya indikator-indikator ekonomi seperti defisit transaksi berjalan (current account deficit) yang terbantu surplus neraca dagang, serta landainya inflasi. Ini membuat kepercayaan pasar pada Indonesia meningkat.

            Kejelasan kondisi pasar keuangan akan lebih jelas setelah Pemilu Presiden pada 9 Juli mendatang. “Nanti setelah 9 Juli sudah lebih jelas, kemudian mereka (investor) mencerna,” kata Mirza. Pemilu setelah orde reformasi Indonesia sudah ada sejak 1999, 2004, dan 2009. Dalam masa itu, investor akan mencerna mengenai koalisi. “Kalau pemilu sudah teruji, jika ada fluktuasi itu biasa,”      

            Pasca-Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pagi tadi mengalami pelemahan hingga Rp100 atau 0,88% ke level Rp11.458 per USD. Bank Indonesia (BI) menilai, kondisi tersebut dianggap hal yang biasa. Kondisi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merupakan bukan kondisi yang perlu dikhawatirkan berlebihan. Dia menegaskan, untuk saat ini yang terpenting adalah angka-angka fundamental ekonomi masih dalam jalur yang cukup baik. “Melemahnya rupiah sekarang ini, gak ada yang luar biasa, gak ada yang perlu dikhawatirkan. Yang penting neraca perdagangan Februari sudah surplus lagi dan neraca perdagangan maret.

            Sebelumnya, Bank Indonesia mencatat,  pada bulan Maret 2014 nilai tukar rupiah di level Rp11.360 per USD, menguat 2,19% dibanding dengan level akhir Februari 2014. Sedangkan secara rata-rata, rupiah pada Maret 2014 tercatat Rp11.420 per USD, menguat 4,38% dibanding dengan rata-rata rupiah pada Februari 2014 sebesar Rp11.919 per USD. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara menyatakan, dengan perkembangan ini, rupiah sampai dengan Maret 2014 menguat 7,13 % dibanding dengan level akhir tahun 2013 atau secara rata-rata menguat 2,85 % dibandingkan dengan rata-rata rupiah tahun lalu

            Sebelum Pemilu Caleg (Pemilihan Umum Calon Legislatif) dilaksanakan, rupiah sempat berada di posisi Rp 11.200 per dolar Amerika Serikat (AS). Pasca Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif, nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS) pada 11 April 2014 mengalami pelemahan hingga 100 poin atau menurun 0,88% ke level Rp 11.458 per dolar AS.

            Salah satu penyebab melemahnya nilai tukar rupiah adalah Hasil pemilu yang tak sesuai ekspektasi investor membuat kurs rupiah terhadap dolar melorot tajam pada Kamis, 10 April 2014. Rupiah pun menjadi mata uang terlemah di Asia karena turun hingga 0,56 persen, selain itu penyebab lainnya adalah tingginya impor sehingga permintaan valuta asing meningkat. BI telah menempuh sejumlah kebijakan terkait dengan nilai tukar rupiah, baik kebijakan moneter, kebijakan stabilitas nilai tukar rupiah, maupun kebijakan makroprudensial. Kebijakan moneter meliputi kebijakan menaikkan suku bunga hingga 175 basis poin sebagai respons atas kenaikan ekspektasi inflasi dan mendorong aliran masuk modal asing dan stabilitas nilai tukar

            Perekonomian yang semakin berimbang dan mendorong perbaikan kinerja sektor eksternal telah berdampak pada menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Oleh sebab itu, BI akan tetap konsisten menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya dan didukung berbagai upaya untuk meningkatkan pendalaman pasar uang. Berbagai kemajuan dalam pendalama pasar uang baik rupiah maupun valas seperti mini MRA dan transaksi lindung nilai akan ditingkatkan dan menjadi fokus kebijakan ke depan.

            Adanya hubungan antara nilai tukar rupiah dan pemilu terhadap USD membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Perbandingan Nilai Tukar Rupiah terhadap USD sebelum dan Setelah Adanya Pemilihan Legislatif (PILEG)”.

 

1.2.            Rumusan Masalah

            Dari uraian latar belakang penelitian di atas maka dapat dirumuskan pokok-pokok permasalahan yang akan dilakukan pembahasan pada penilitian ini yaitu “Apakah ada perbandingan rata-rata nilai tukar Rupiah terhadap USD sebelum dan setelah adanya pemilu legislatif (Pileg)”.

 

1.3.            Tujuan Masalah

            Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan rata-rata nilai tukar Rupiah terhadap USD sebelum dan setelah adanya pemilihan legislatif (PILEG).

BAB II

METODE PENELITIAN

 

2.1.            Objek Penelitian

            Objek yang diteliti adalah nilai tukar rupiah di Indonesia terhadap USD selama periode sebelum pemilu dan sesudah pemilu. Nilai tukar menurut Musdholifah & Tony (2007), nilai tukar atau kurs adalah perbandingan antara harga mata uang suatu negara dengan mata uang negara lain. Misal kurs rupiah terhadap dollar Amerika menunjukkan berapa rupiah yang diperlukan untuk ditukarkan dengan satu dollar Amerika.

 

2.2.            Jenis dan Sumber Data

            Jenis data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder ini bersumber pada Bank Indonesia (BI). Data yang digunakan yaitu kurs tengah (Kurs Jual + Kurs Beli : 2) dengan memakai data harian. Dimana periode sebelum pemilu yang digunakan adalah 12 hari yaitu tanggal 21 Maret – 09 April 2014 dan sesudah pemilu adalah 10 April – 28 April 2014. Data didapatkan dari media internet yang diunduh dari kurs tengah (referensi) Bank Indonesia.

 

2.3.            Metode Analisis Data           

            Pengolahan data menggunakan metode PAIRED SAMPLE T-TEST. Paired sample t-Test adalah uji t dimana sampel saling berhubungan antara satu sample dengan sample yang lain. Pengujian ini biasanya dilakukan pada penelitian dengan menggunakan teknik eksperimen dimana satu sampel diberi perlakuan tertentu kemudian dibandingkan dengan kondisi sampel sebelum adanya perlakuan dan sesudah adanya perlakuan. Perlakuannya adalah pemilu legislatif yang dilakukan pada tanggal 09 April 2014. Tujuannya untuk menguji perbedaan rata-rata antara sampel yang diuji. Data yang sudah diolah kemudian dianalisis secara deskriptif.

 

2.4.            Hipotesis :

            Hipotesis merupakan dugaan sementara terhadap masalah yang diteliti dimana kebenaran dari hipotesis masih harus diuji. Berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

 

Ho       : Tidak ada perbedaan rata-rata sampel nilai tukar Rupiah terhadap USD antara sebelum dan setelah adanya Pemilu Legislatif (PILEG)

Ha       : Ada perbedaan rata-rata sampel nilai tukar Rupiah terhadap USD antara sebelum dan setelah adanya Pemilu Legislatif (PILEG)

Uji – t

Alfa (taraf nyata) : 5%

Kriteria pengambilan keputusan :

Menggunakan nilai signifikan / P-Value

Jika nilai signifikan / P-Value >= 0,05 ; maka Ho diterima

Jika nilai signifikan / P-Value < 0,05 ; maka Ho ditolak.

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

3.1.            Kurs Rupiah terhadap USD

            Kurs atau nilai tukar adalah suatu nilai yang menunjukkan jumlah nilai mata uang dalam negeri yang diperlukan untuk mendapatkan satu unit mata uang asing (Sadono Sukirno, 2002). Sedangkan menurut Nopirin (1997) nilai tukar merupakan harga pertukaran antara dua mata uang yang berbeda dengan perbandingan nilai / harga tertentu. Kurs ini merupakan salah satu harga yang terpenting dalam perekonomian terbuka mengingat pengaruhnya yang demikian besar bagi neraca transaksi berjalan maupul aspek ekonomi lainnya. Kurs juga dapat menunjukkan apakah suatu negara dikatakan memiliki perekonomian yang kuat atau tidak. Di negara-negara maju nilai kurs mereka selalu terjaga tinggi dan stabil, untuk itulah disebut sebagai hard currency. Dalam penelitian ini menggunakan kurs rupiah terhadap USD yang dianggap sebagai negara paling maju dan menjadi kiblat pelaku pasar uang dalam menjalankan aktivitasnya.

            Kurs yang digunakan adalah kurs tengah yaitu kurs antara kurs jual dan kurs beli valuta asing terhadap mata uang nasional yang ditetapkan oleh Bank Sentral dalam hal ini adalah Bank Indonesia. Berikut ini adalah data kurs rupiah terhadap USD selama periode penelitian yaitu tanggal 21 Maret hingga 28 April 2014.

           

            Dari data tersebut terlihat bahwa kurs rupiah terhadap USD sangat berfluktuasi meskipun cenderung melemah jika dilihat dari periode awal hingga akhir penelitian. Rupiah yang mengalami depresiasi ini lebih disebabkan karena kondisi perekonomian Amerika yang semakin membaik, juga melihat pada berbagai sektor industri yang mulai menata kembali strategi bisnisnya. Kondisi politik juga sangat berpengaruh dalam menjaga kurs yang tetap tinggi, karena para pelaku pasar akan merasa lebih aman jika faktor ketidakpastian di masa mendatang dapat ditekan dan dijelaskan dimuka dengan melihat kondisi politik dan perekonomian yang stabil.

            Penelitian ini juga ingin melihat hal serupa dengan membandingkan kurs rupiah terhadap USD yang tercapai sebelum dan setelah adanya pemilihan legislatif. karena sebagai salah satu faktor pendukung penentuan nilai tukar, pelaku pasar berekspektasi bahwa dengan diadakannya pemilu legislatif, diharapkan mampu membentuk pemerintahan yang baru dan memberikan dampak yang nyata bagi kemajuan perekonomian di berbagai sektor sehingga pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat segera tercapai dengan menekan angka inflasi dan pengangguran. Kondisi seperti inilah yang diharapkan oleh semua pelaku pasar. Kondisi dimana kestabilan politik dan ekonomi dapat terjaga.

 

3.2.            Analisis Data

            Penelitian ini menggunakan uji rata-rata dua sampel berpasangan (Paired Sample T-Test) yang bertujuan untuk melihat apakah ada perbedaan rata-rata nilai tukar rupiah terhadap USD sebelum dan sesudah adanya pemilihan legislatif. Data yang digunakan adalah data sekunder yang dikumpulkan dan diterbitkan oleh Bank Indonesia yaitu berupa data kurs tengah atau juga dikenal sebagai kurs referensi selama periode penelitian yaitu 21 Maret hingga 28 April 2014. Kemudian data diolah menggunakan software SPSS versi 20. Berikut ini adalah hasil pengolahan datanya:

 

Paired Samples Statistics

 

Mean

N

Std. Deviation

Std. Error Mean

Pair 1

Sebelum Pileg

11350.5833

12

60.10666

17.35130

Sesudah Pileg

11484.0833

12

86.42859

24.94979

Data diolah penulis

           

            Pada bagian ini menyajikan deskripsi dari pasangan variabel yang dianalisis yaitu meliputi rata-rata kurs rupiah terhadap USD sebelum pemilu legislatif Rp 11.350,58 / USD dengan standar deviasi 60,11 dan sesudah diadakan pemilu legislatif rata-ratanya menjadi Rp 11.484,08 / USD dengan standar deviasi 86,43.

 

Paired Samples Correlations

 

N

Correlation

 

Pair 1

Sebelum Pileg & Sesudah Pileg

12

.598

.040

         

      Data diolah penulis

           

            Bagian yang kedua menjelaskan tentang jumlah data dan besarnya korelasi atau hubungan antara kedua sampel yang berpasangan ini. Terlihat dari hasil pengolahan data bahwa ada 12 data yang memiliki nilai korelasi sebesar 59.8%. Artinya terdapat hubungan yang cukup kuat antara sampel sebelum dan sesudah. Hubungan ini juga berpengaruh signifikan yang ditunjukkan oleh nilai signifikansi sebesar 0,04 lebih kecil dari taraf nyata yaitu 0,05.

 

Paired Samples Test

Paired Differences

T

df

Sig. (2-tailed)

Mean

Std. Deviation

Std. Error Mean

95% Confidence Interval of the Difference

Lower

Upper

-133.50000

69.78864

20.14625

-177.84159

-89.15841

-6.627

11

.000

 

           

            Bagian ketiga menunjukkan hasil pengujian uji dua sampel berpasangan yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. Pengambilan keputusan didasarkan pada nilai signifikansi yang dihasilkan. Jika nilai signifikansi dibawah 0,05 (taraf nyata) artinya Ho ditolak dan Ha diterima. Melihat hasil pengujian diatas, tercapai nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05 artinya Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi pernyataan hipotesis yang diterima adalah terdapat perbedaan rata-rata nilai tukar rupiah terhadap USD sebelum dan setelah adanya pemilihan legislatif.

 

3.3.            Hasil dan Pembahasan

            Berdasarkan hasil perhitungan diatas yang diolah menggunakan software SPSS terlihat bahwa rata-rata kurs rupiah terhadap USD sebelum pemilihan memiliki hubungan yang cukup kuat dengan sesudah pemilihan legislatif yang ditunjukkan oleh angka correlations sebesar 59,8% dan hubungan ini bersifat signifikan yang ditunjukkan oleh nilai signifikansi sebesar 0,04 lebih kecil dari taraf nyata yaitu 0,05. Sementara hasil pengujian rata-rata dua sampelnya menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang artinya terdapat perbedaan rata-rata nilai tukar rupiah terhadap USD sebelum dan setelah adanya pemilihan legislatif. Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar mempertimbangkan faktor politik yang difokuskan pada pemilihan legislatif sebagai bagian dari sistem demokrasi yaitu rakyat dituntut untuk memilih wakil-wakilnya untuk mengemban tugas di lingkungan legislatif melalui fungsi legislati, fungsi anggaran, dan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.

            Pelaku pasar melihat dengan dipilihnya wakil rakyat yang baru diharapkan mampu mencapai kondisi perekonomian yang stabil dan meneruskan pembangunan ekonomi ke arah kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Faktor kepastian inilah yang dipegang pelaku pasar dengan ekspektasi bahwa kegiatan ekonomi di negara Indonesia dapat tumbuh dan berkembang sehingga mampu mencapai surplus neraca transaksi berjalan dan mendorong posisi rupiah ke sentimen positif terhadap USD atau mata uang negara lain.


 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

4.1.            Kesimpulan

            Dari hasil penelitian kami secara keseluruhan dapat ditarik kesimpulan bahwa politik berpengaruh dalam kehidupan ekonomi khususnya di Indonesia. Oleh karenanya terdapat perbandingan antara nilai tukar rupiah terhadap USD sebelum dan setelah adanya pemilihan legislatif di Indonesia. Politik memiliki pengaruh dalam gejolak kebijakan yang diberikan oleh pemerintah. Dimana pemerintah lebih memfokuskan dalam penyelenggaran pemilu sehingga pada pasar ekonomi mengalami sedikit lesu. Ini dapat diakibatkan karena pelaku pasar menunggu kebijakan baru yang akan diberikan pemerintah kemudian disesuaikan dengan pasar ekonomi di Indonesia. Kurs salah satu indikator penting dalam menilai keberhasilan perekonomian. Dengan kata lain, jika nilai kurs rupiah terhadap USD dapat mengalami pergeseran karena adanya keadaan politik yang sedang berlangsung di negara Republik Indonesia.

 

4.2.            Saran

            Saran yang akan ditunjukan pertama untuk pemerintah, agar tetap mengkondisikan nilai kurs tetap stabil dalam keadaan apapun di Indonesia. Sehingga tidak berpengaruh signifikan terhadap keadaan politik yang ada. Kedua, untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan lebih tajam lagi variabel yang digunakan dan metode dalam menganalisis agar mendapatkan hasil yang lebih baik dari penelitian sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Duwi, Priyatno. 2009. 5 Jam Belajar Olah Data dengan SPSS 17. Yogyakarta : C.V Andi Offset

Nopirin. 1997. Ekonomi Moneter Buku I. Yogyakarta: BPFE UGM.

Tri hendardi, C. 2009. Spss 16 Step by Step Analisis Data Statistik . Yogyakrta :penerbit Andi

Sukirno, Sadono. 2002. Pengantar Teori Makro Ekonomi Edisi Ke 2. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

http://finance.detik.com/read/2014/02/03/114322/2485289/6/dolar-diramal-kembali-ke-rp-11400-setelah-pemilu

http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:G37ht0ifum0J:www.pikiran-rakyat.com/node/261544+&cd=8&hl=id&ct=clnk

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

KURS REFERENSI 

JAKARTA INTERBANK SPOT DOLLAR RATE (JISDOR) 

USD – IDR

 

 

Tanggal

Kurs

28 April 2014

11,568.00

25 April 2014

11,601.00

24 April 2014

11,608.00

23 April 2014

11,590.00

22 April 2014

11,486.00

21 April 2014

11,430.00

17 April 2014

11,418.00

16 April 2014

11,438.00

15 April 2014

11,434.00

14 April 2014

11,444.00

11 April 2014

11,450.00

10 April 2014

11,342.00

8 April 2014

11,309.00

7 April 2014

11,282.00

4 April 2014

11,310.00

3 April 2014

11,310.00

2 April 2014

11,303.00

1 April 2014

11,271.00

28 March 2014

11,404.00

27 March 2014

11,438.00

26 March 2014

11,408.00

25 March 2014

11,357.00

24 March 2014

11,384.00

21 March 2014

11,431.00

 

2 comments on “ANALISIS PERBANDINGAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP USD SEBELUM DAN SETELAH ADANYA PEMILIHAN LEGISLATIF (PILEG)

  • Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: